Devil May Cry 5 Pecahkan Rekor Penjualan di Usia 7 Tahun! Anime Netflix Bikin Meledak
Banyak game action bergenre sama yang rilis di periode yang sama sudah mulai dilupakan. Penjualannya merosot tajam setelah dua atau tiga tahun, komunitasnya menyusut, dan developer-nya pun sudah beralih ke proyek lain. Tapi tidak dengan Devil May Cry 5. Justru di usia tujuh tahun, game ini mencetak angka penjualan yang membuat banyak pihak di industri tercengang. Menurut pengalaman saya sebagai jurnalis game yang sudah mengikuti perkembangan seri Devil May Cry sejak era PlayStation 2, comeback sekuat ini jarang terjadi. Biasanya game lama hanya bertahan karena diskon besar atau nostalgia sesaat. Kali ini beda. Ada strategi yang lebih dalam.
Mengapa Game yang Sudah Tua Bisa Meledak Lagi?
Masalah klasik di industri game adalah “game baru selalu lebih menarik”. Pemain muda cenderung langsung tertarik pada judul fresh dengan grafis mutakhir dan marketing gempita. Sementara game lama sering dianggap “sudah selesai”. Devil May Cry 5 membalikkan narasi itu.
Kuncinya terletak pada strategi lintas media yang dilakukan Capcom secara konsisten. Ketika anime Netflix dirilis dan langsung mendapat respons hangat dari penonton global, gelombang minat baru terhadap dunia Devil May Cry muncul secara organik. Banyak orang yang sebelumnya tidak pernah menyentuh controller tiba-tiba penasaran: “Siapa sebenarnya Dante ini? Kenapa karakternya begitu karismatik?” Dari sinilah pintu masuk ke game terbuka lebar.
Saya sendiri ingat betul saat pertama kali main Devil May Cry 5 di akhir 2019. Malam itu saya hanya berniat “coba sebentar”. Tiga jam kemudian saya masih duduk di depan TV, mencoba menyelesaikan satu mission dengan style rank S. Rasanya seperti kembali ke masa-masa Devil May Cry 3 yang dulu bikin saya begadang sampai subuh. Itu pengalaman yang sulit dilupakan dan ternyata banyak pemain baru di 2026 merasakan hal yang sama.

Peran Anime Netflix dalam Meledaknya Penjualan Devil May Cry 5
Anime Netflix bukan sekadar adaptasi biasa. Ia berhasil menangkap esensi “stylish action” yang menjadi jiwa seri Devil May Cry tanpa harus mengorbankan cerita atau karakternya. Banyak penonton yang baru mengenal Dante, Nero, dan V melalui layar kaca, lalu langsung terpikat pada gaya bertarung yang penuh gaya, musik yang menggelegar, dan humor khas yang jarang ditemui di game action lain.
Efeknya langsung terasa di penjualan game. Dalam tahun fiskal terakhir, Devil May Cry 5 berhasil terjual lebih dari 2,7 juta kopi angka yang bahkan melampaui 2,1 juta kopi yang terjual di tahun peluncuran 2019. Total penjualan keseluruhan kini sudah mendekati 13 juta kopi di seluruh dunia. Ini bukan angka kecil untuk sebuah game single-player action yang sudah berumur tujuh tahun.
Contoh nyata datang dari komunitas Indonesia. Andi, 27 tahun, content creator dari Jakarta, bercerita: “Aku nonton anime Netflix dulu karena iseng. Pas lihat Dante nembak sambil ngobrol santai sambil motong musuh, langsung ketagihan. Besoknya aku langsung beli DMC5 di Steam pas lagi diskon. Sekarang aku udah 150 jam main dan masih nemu gerakan baru tiap hari.”
Cerita serupa juga datang dari Rina, 24 tahun, mahasiswi dari Bandung yang sebelumnya jarang main game action berat: “Aku pikir game ini cuma buat cowok yang suka kekerasan. Ternyata setelah main, combat-nya bikin ketagihan. Setiap combo yang berhasil terasa sangat memuaskan. Sekarang aku malah ajak temen-temen main bareng.”
Data Penjualan yang Membuat Banyak Pihak Terkejut
Mari kita lihat angkanya secara lebih detail agar jelas betapa luar biasanya pencapaian ini. Di tahun peluncuran, Devil May Cry 5 terjual sekitar 2,1 juta kopi angka yang sudah sangat baik untuk game action. Beberapa tahun kemudian sempat ada penurunan alami, seperti yang dialami hampir semua game. Namun di tahun terakhir, justru terjadi lonjakan signifikan hingga 2,7 juta kopi dalam 12 bulan saja.
Angka ini penting karena menunjukkan bahwa minat terhadap game tidak selalu menurun seiring waktu. Justru sebaliknya, jika ada pemicu yang tepat dalam hal ini anime berkualitas tinggi plus diskon strategis game lama bisa kembali menjadi primadona.
Menurut pengalaman saya meliput berbagai peluncuran game, jarang sekali ada judul yang mampu melampaui penjualan tahun pertamanya setelah usia tujuh tahun. Devil May Cry 5 berhasil melakukannya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi developer lain: jangan pernah menganggap game sudah “selesai” hanya karena sudah lama rilis.
Daya Tarik Abadi yang Membuat Pemain Terus Kembali
Apa yang membuat Devil May Cry 5 tetap relevan setelah tujuh tahun? Jawabannya terletak pada fondasi gameplay yang sangat kuat.
Combat di game ini dirancang dengan filosofi “style is everything”. Setiap serangan, setiap dodge, setiap senjata memiliki bobot dan feedback yang memuaskan. Pemain tidak hanya menekan tombol; mereka “menari” di medan perang. Kombinasi antara senjata jarak dekat, senjata api, dan kemampuan demon yang dimiliki Nero menciptakan kedalaman yang jarang ditemui di genre action.

Saya sering mendengar pemain bilang bahwa setelah menyelesaikan cerita utama, mereka masih kembali untuk mencoba semua difficulty level, mengumpulkan semua collectible, atau sekadar menghabiskan waktu di Bloody Palace — mode endless battle yang menguji skill sampai batas maksimal. Itu adalah tanda sebuah game yang dirancang dengan hati, bukan sekadar untuk dijual sekali lalu dilupakan.
5 Langkah Actionable untuk Menikmati Devil May Cry 5 di Tahun 2026
Bagi kamu yang baru ingin mencoba atau ingin kembali main setelah lama tidak menyentuh, berikut langkah praktis yang bisa langsung dilakukan:
- Pilih platform yang paling nyaman Saat ini Devil May Cry 5 tersedia di PC, PlayStation, dan Xbox. Jika kamu punya Nintendo Switch 2, tunggu sebentar lagi karena versi Devil Hunter Edition akan segera hadir. Pilih yang paling nyaman untuk kamu mainkan dalam waktu lama.
- Mulai dari difficulty yang pas Jangan langsung pilih Dante Must Die kalau baru pertama kali. Mulailah dari Devil Hunter atau Son of Sparda. Biarkan diri kamu terbiasa dengan ritme combat sebelum naik level kesulitan.
- Fokus pelajari satu karakter dulu Nero lebih ramah untuk pemula karena Devil Breaker-nya memberikan variasi serangan yang mudah dipahami. Setelah nyaman, baru coba Dante yang punya lebih banyak senjata dan gaya bertarung.
- Jangan skip cutscene dan dialog Cerita Devil May Cry 5 sebenarnya cukup dalam dan penuh momen emosional. Banyak pemain yang baru sadar betapa bagusnya narasinya setelah menonton cutscene dengan seksama.
- Manfaatkan mode Bloody Palace dan DLC Vergil Setelah cerita utama selesai, coba mode Bloody Palace untuk mengasah skill. Kalau sudah punya DLC, mainkan sebagai Vergil — pengalaman bertarungnya benar-benar berbeda dan sangat memuaskan.
FAQ tentang Devil May Cry 5 dan Rekor Penjualannya
Saatnya Bagikan Pengalamanmu!
Sekarang giliran kamu. Ceritakan di kolom komentar di bawah ini: apa momen paling epik yang pernah kamu alami saat main Devil May Cry 5? Atau mungkin kamu baru mulai main setelah nonton anime Netflix? Bagaimana pengalaman pertamamu dengan combo dan style rank yang terkenal itu?
Saya selalu senang membaca cerita dari komunitas, karena justru dari situ saya bisa melihat betapa kuatnya dampak sebuah game yang dirancang dengan passion. Jangan ragu untuk share siapa tahu ceritamu bisa menginspirasi pemain lain untuk ikut mencoba Devil May Cry 5 di usia tujuh tahunnya yang semakin gemilang.
Selamat bermain, dan ingat: style is everything.

.webp)